Kamis, 22 September 2011

Kisah di Balik Kelezatan Rendang

Rendang


"Pemahaman yang baik akan akar budaya kuliner bisa menumbuhkan semangat melestarikannya."

Indonesia memiliki kultur budaya yang kompleks. Tak hanya tertuang dalam seni pertunjukan, budaya Indonesia mewujud melalui kain-kain tradisional dan resep nusantara yang melimpah.

Bak oasis di tengah gersangnya gurun pasir, survei kantor berita CNN di jejaring sosial mengukuhkan rendang dan nasi goreng sebagai makanan terlezat.

Hanya, mungkin masih banyak yang menikmati makanan hanya karena cita rasanya, tanpa tahu cerita budaya di baliknya. Padahal, mengetahui kisah dalam setiap racikan bumbu dan resep warisan nenek moyang, akan membuat kita semakin menghargai budaya bangsa. Pemahaman yang baik akan akar budaya kuliner bisa menumbuhkan semangat untuk melestarikannya.

Rendang lebih dikenal sebagai bagian dari tradisi masyarakat Melayu. Namun, setiap suku bangsa Melayu memiliki cita rasa rendang yang berbeda-beda. Menurut sejarawan JJ Rizal, rendang buatan masyarakat Minang berbeda dengan rendang masyarakat Mandailing. Berbeda pula dengan rendang Kapau.

"Inilah yang harus diselamatkan. Kita harus menginventariskan segala jenis rendang yang ada lalu mematenkannya, dan diolah secara praktis seperti menjadi makanan kaleng," ujar Rizal yang ditemui setelah seminar 'Mencermati Kuliner Nusantara sebagai Cerminan Kekayaan Budaya Bangsa' di Universitas Indonesia, Rabu, 21 September 2011.

Seperti dikutip dari akun Rendang Padang di Facebook, rendang memiliki posisi terhormat dalam adat dan budaya Minangkabau. Bahan-bahannya pun memuat makna kuat.

1. Dagiang atau Daging Sapi adalah bahan utama yang digunakan. Daging melambangkan Niniak Mamak (orang yang dituakan dalam suatu suku) dan bundo kanduang yang akan memberi kemakmuran pada anak kemenakan dan anak pisang (saudara laki-laki dari ibu).

2. Karambia atau Kelapa melambangkan Cadiak Pandai (Kaum Intelektual), yang akan merekatkan kebersamaan antar kelompok dan individu.

3. Lado atau Sambal, merupakan lambang Alim Ulama yang pedas, tegas untuk mengajarkan syarak (agama).

4. Pemasak atau Bumbu melambangkan peran fungsional setiap individu dalam kehidupan berkelompok dan merupakan unsur penting dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat Minang.








Sumber

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...