Minggu, 24 Juli 2011

6 Cara Menghemat Bahan Bakar Kala Mudik


Pintu gerbang tol Cikopo mulai dipadati kendaraan pemudik yang menuju Jawa Tengah,
Jawa Timur dan Bali pada H-6 (25/9) . Foto: TEMPO/Nanang Sutisna



Meski kerap diulas di berbagai media, cara atau tip menghemat bahan bakar seolah tak pernah sepi dari pembaca. Terlebih di saat menjelang Lebaran.

Melakukan perjalanan jarak jauh seperti saat mudik sangat membutuhkan teknik-teknik tertentu agar mobil tak boros bahan bakar. “Pada sisi lain, faktor penyebab mobil boros juga beragam, bukan sekadar masalah mesin, tapi juga teknik atau gaya berkendara,” tutur Zakaria, Servis Advisor, Victory Motor, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa, 19 Juli 2011.

Namun, kata pria yang biasa dipanggil Jacky itu, saat mudik Lebaran faktor gaya mengemudi menjadi hal yang mesti diperhatikan. Pasalnya, kendati menggunakan mobil baru sekalipun, bila gaya mengemudi tidak tepat, mobil tetap akan boros. “Hampir 50 persen penyebab mobil boros adalah gaya mengemudi, 30 persen faktor mesin, 10 persen faktor beban yang dibawa, 5 persen karena tekanan ban, sisanya lain-lain,” ujar Jacky.

Lantas apa saja yang wajib diperhatikan oleh pemilik mobil agar tetap irit bahan bakar kala mudik? Berikut penjelasan Jacky.

1. Sesuaikan posisi gigi dengan putaran mesin.

Satu hal yang patut diingat adalah, selalu sesuaikan posisi gigi dengan putaran mesin. Artinya, jangan memposisikan gigi di tingkat tinggi kala putaran mesin rendah. Karena bila posisi gigi tinggi, sementara putaran mesin di tingkat rendah menjadikan beban mesin lebih berat menghasilkan tenaga. Walhasil, asupan bahan bakar yang dibutuhkan pun semakin banyak.

2. Gunakan gaya elang terbang.

Saat mudik, jalanan akan penuh sesak dengan kendaraan, sehingga kemacetan pun tak bisa dihindari. Anda pun pasti akan sering menginjak pedal rem, kemudian menginjak pedal gas.

Padahal, cara seperti itu akan menyebabkan mobil boros bahan bakar. Sebab, saat Anda menginjak pedal rem, saat itulah klep--baik di injektor maupun karburator--akan menutup. Dan begitu Anda menginjak pedal gas kembali, klep seakan dientakkan untuk membuka. “Pada saat seperti itu sedotan bahan bakar juga seperti dientakkan atau menyembur kencang. Itu yang menjadikan boros,” ujar Jacky.

Karena itu, sangat disarankan untuk mengemudi bergaya elang yang sedang terbang. Burung pemangsa hewan lain itu hanya 2 hingga 3 kali mengibaskan sayap kala terbang, kemudian membentangkan sayapnya agar tetap melaju kencang.

Artinya, saat mengemudi--khususnya saat macet--sebaiknya hanya beberapa kali menginjak pedal gas, kemudian melepasnya dan membebaskan posisi kopling transmisi. Terlebih bila melintasi jalanan menurun.

3. Jaga tekanan angin.

Aspek ini hanya memiliki pengaruh sekitar 10 persen terhadap tingkat keborosan bahan bakar. Namun, hal itu cukup terasa kala Anda melakukan perjalanan jauh, seperti mudik Lebaran.

Tekanan angin ban yang kurang dari standar--terlebih bila membawa barang dan penumpang lebih banyak--akan menyebabkan permukaan ban yang langsung bersentuhan dengan permukaan jalan juga semakin banyak.

Walhasil, mobil memerlukan tenaga ekstra untuk menggerakkan ban tersebut. Seiring dengan bertambahnya tenaga yang dikeluarkan, semakin besar pula asupan bahan bakar yang dibutuhkan.

Selain itu, tekanan angin ban yang kurang dari standar juga membahayakan keselamatan. Fakta juga menunjukkan, 70-80 persen kecelakaan di jalan tol disebabkan oleh tekanan angin ban yang kurang.

4. Gunakan ban standar.

Faktor lain yang menyebabkan mobil boros bahan bakar adalah ukuran ban yang lebih besar dari standar dari produsen mobil. Bila ingin bergaya dengan memperbesar ban, sebaiknya tidak menggunakan ban yang berukuran 2 inci lebih besar dari standar. “Itu pun juga masih berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar,” ujar Jacky.

5. Perhatikan koefisien drag.

Pada umumnya, produsen mobil telah merancang produknya memiliki tingkat koefisien drag yang rendah. Selain bisa memangkas tingkat konsumsi bahan bakar, tingkat koefisien yang rendah juga membantu mobil melesat di jalan raya.

Maklum, tingkat koefisien drag merupakan tingkat kemampuan mobil melesat dengan memperhitungkan hambatan angin berdasar gaya atau bentuk desain, faktor teknis di mesin, dan lain-lain. Namun, faktor aerodinamis dari desain mobil memiliki porsi yang cukup besar.

Karena itu, sangat disarankan untuk tidak menempatkan barang bawaan di atap mobil. Hal itu akan menyebabkan hambatan angin yang harus dihadapi mobil juga semakin tinggi. Akibatnya, kendaraan membutuhkan tenaga yang lebih besar untuk bergerak, dan asupan bahan bakar yang dibutuhkan juga semakin besar.

6. Atur ulang aspek teknis di mesin.

Langkah ini hanya disarankan bagi mobil yang telah lama dipakai, bukan mobil baru. Pengaturan mulai dari tune up yang meliputi kalibrasi injektor atau pengaturan ulang karburator, timing belt, busi, dan lain-lain.

Tautan
Sumber

E6YQ2TBSXUDR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...